LAKSANAKAN TUGAS KARENA ALLAH !

Ditulis Oktober 22, 2015 oleh Subliyanto
Kategori: Kajian

Oleh : Subliyanto*

Salah satu kebiasaan buruk manusia adalah mengeluh dalam melaksanakan tugas. Entah keluhan itu karena kurangnya hak yang seharusnya didapatkannya atau karena kelebihan beban tugas yang diamanahkannya.

Disisi lain keluhan itu wajar jika memang terjadi ketidak sesuaian antara kewajiban dan haknya. Namun keluhan itu juga akan menjadi racun yang mematikan spritual manusia jika keluhan itu mengarah kepada kelemahan dan kemalasan.

Lemah dan malas merupakan dua akhlak yang tercela,karenanya Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari dua akhlak ini.

Do’a yang sering beliau ucapkan terkait dua hal ini adalah : “Ya Allah,sesungguhnya aku memohon perlindungan kepadaMu dari kelemahan,kemalasan,sikap pengecut,dan penyakit tua,serta kekikiran.” (HR.Bukhari-Muslim)

Beliau juga berwasiat agar beramal dengan giat,sebagaimana dalam sabdanya : “Bekerja giatlah pada apa yang bermanfaat bagimu,dan mohonlah pertolongan kepada Allah,janganlah melemah,bila sesuatu menimpamu,maka jangan kamu katakan “andaikan saya begini,niscaya akan begini”,akan tetapi katakanlah “Allah telah menentukan dan apa yang Dia (Allah) kehendaki,maka Dia laksanakan”. Sebab kata “andaikan” akan membuka pekerjaan setan.” (HR.Muslim)

Berbicara tugas dan amanah tidak lepas dari konsep empat sifat Rasulullah,yaitu siddiq,amanah,tabligh,dan fatonah. Karena keempat sifat tersebut bak dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Kalo kita uraikan secara urut bahwa pribadi yang jujur akan diberi amanah oleh Allah,kemudian jika amanah sudah Allah berikan,maka kita mempunyai tugas untuk menyampaikannya (tabligh),selanjutnya jika kita sudah melaksanakan amanah dengan baik,maka Allah akan memberi gelar kehormatan kepada kita sebagai orang yang terpercaya (fatonah).

Sebagai seorang muslim yang mengemban tugas dan amanah yang sangat besar lantas kemudian apa yang harus kita lakukan,dan bagaimana agar terhindar dari dua akhlak tercela di atas ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas tentunya hendaknya kita kembali merujuk kepada tugas pokok kita sebagai manusia yang sudah termaktub dalam alQur’an.

Dalam alQur’an dijelaskan bahwa tugas pokok manusia adalah sebagai ‘abdullah dan khalifatullah,sebagaimana disebutkan dalam firmanNya :

“Wahai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS.al-Baqarah : 21)

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”….. (QS.al-Baqarah : 30)

Sehingga kesimpulannya adalah apapun tugas dan amanah yang kita emban maka laksanakanlah dengan ikhlas karena Allah,karena sesungguhnya tugas yang kita emban adalah amanah dari Allah,dan ikhlas merupakan kunci diterimanya amal perbuatan kita.

Allah berfirman : ” Katakanlah,sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama.” (QS.az-Zumar : 11)

Wallahu a’lam

*Penulis adalah pendidik di Hidayatullah Sleman Yogyakarta,twitter @Subliyanto

YANG KITA TUNGGU HANYALAH KEMATIAN

Ditulis Oktober 21, 2015 oleh Subliyanto
Kategori: Kajian

Oleh : Subliyanto*

Kemarin (15 Oktober 2015),saya mendapatkan kabar dari berbagai jaringan sosial media sahabat saya,yang mengabarkan bahwa salah satu sahabat saya telah dipanggil oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”

Tentunya kalimat di atas sontak terucap dari para sahabatnya,seraya mendo’akan “Semoga amal baiknya diterima oleh Allah,dan segala dosa-dosanya diampuni oleh Allah,serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran”

Ketika mendengar kematian tentunya yang menjadi salah satu pertanyaan banyak orang salah satunya adalah umur,walaupun kita ketahui bersama bahwa kematian itu sendiri datang tidak memandang umur. Namun Hal itu menarik untuk dikaji dan diteliti guna memperkuat keimanan kita kepada Allah.

Dengan penuh penasaran saya mencoba untuk mencari tahu tentang umur sahabat saya,dan saya temukan bahwa beliau lahir di bulan Oktober pada tahun1989,masih cukup muda ternyata. Dan ternyata beliau dipanggil oleh Allah di bulan Oktober juga. Subhanallah,la haula wa la quwwata illa billah.

Kembali kepada sejarah,bahwa dalam sejarah, Muhammad Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam lahir dan wafat pada bulan yang sama,yaitu pada bulan Rabiul Awwal. Subhanallah,la haula wa la quwwata illa billah.

Sejarah dan fakta ini menunjukkan gambaran kepada kita semua tentang kematian,sehingga kita harus mempersiapkannya sebaik mungkin dengan matang.

Melihat sejarah dan fakta di atas,kiranya patut kita renungkan sejenak tentang kematian,karena sesungguhnya yang kita tunggu hanyalah kematian.

Lantas selanjutnya apa yang harus kita lakukan ?

Tentunya tidak lain dan tidak bukan jawabannya adalah menabung kebaikan sebagai wujud nyata ketaatan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu a’lam.

*Ditulis di lembah Bulus,lereng Merapi,Sleman Yogyakarta.

TAHUN BARU DAN MASA DEPAN KITA

Ditulis Oktober 15, 2015 oleh Subliyanto
Kategori: Kajian

(Refleksi Tahun Baru 1437 Hijriyah)

Oleh : Subliyanto*

“Selamat tahun baru  1437 Hijriyah”

Mungkin kalimat tersebut sering kita dengar kemarin. Bahkan tidak sedikit dari kita sebagai umat islam yang merayakannya dengan berbagai macam kegiatan.

Terlepas dari pro dan kontra tentang hal itu,yang jelas pergantian tahun ini patut kita syukuri,karena berarti Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk senantiasa memperkuat keimanan kita kepada Allah,dan mengimplementasikannya dalam bentuk amal shaleh dalam keseharian kita.

“Masa lalu adalah sejarah,masa kini adalah realita,dan masa depan adalah cita-cita”

Ungkapan di atas kalau kita kaitkan dengan semangat tahun baru 1437 Hijriyah,maka setidaknya ada tiga hal yang harus kita lakukan di tahun baru ini.

Pertama,apapun yang telah kita lakukan pada tahun kemarin cukuplah menjadi sejarah,dan hendaknya kita introspeksi diri guna untuk perbaikan selanjutnya.

Kedua,apapun yang kita lakukan sekarang merupakan sebuah bukti bahwa kita masih istiqamah dalam menjalani rangkaian hidup dan kehidupan ini,maka lakukanlah dengan penuh keikhlasan.

Allah berfirman : “Dan tidaklah mereka disuruh melainkan untuk menyembah Allah dengan ikhlas mentaatinya semata-semata karena (menjalankan) agama…” (QS.al-Bayyinah : 5)

Ketiga,kehidupan yang kita jalani tidak hanya berhenti disini,masih ada kehidupan berikutnya yang mana setiap amal perbuatan yang kita lakukan,akan dipertanggung jawabkan,maka persiapkanlah segala sesuatunya dengan baik dan sempurna.

Hal ini sebagaimana firman Allah : ” Kemudian setelah itu,sungguh kamu pasti mati. Kemudian sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari kiamat” (QS.al-Mu’minun : 15-16).

Allah juga berfirman : “Maka barang siapa  mengerjakan kebaikan seberat zarrah,niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah,niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS.al-Zalzalah : 7-8).

Tentunya kita semuanya akan mengharapkan yang terbaik. Karenanya persiapkanlah dengan perencanaan yang terbaik pula.

Semoga kita termasuk orang yang istiqamah dalam kebaikan,sehingga kelak kita dapat berjumpa dengan Allah dengan wajah yang berseri. Wallahu a’lam

*Penulis adalah pendidik di Hidayatullah Sleman Yogyakarta.

MENDAMPINGI ANAK HINGGA LUAR RUMAH

Ditulis Oktober 12, 2015 oleh Subliyanto
Kategori: Kajian

Oleh : Subliyanto*

“Anak-anak tetaplah anak-anak,yang harus mengerti adalah kedua orang tuanya”

Ungkapan tersebut tentunya patut menjadi catatan bagi kita sebagai orang tua,karena kesimpulannya kalau terjadi apa-apa terhadap anak-anak kita yang menjadi sorotan utama dan dimintai pertanggung jawaban pertama adalah kita sebagai orang tuanya,lebih-lebih pertanggung jawaban disisi Allah subhanhu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah anak manusia dilahirkan melainkan pasti lahir di atas fitrahnya,maka kemudian orang tuanyalah yang membuatnya menjadi yahudi atau nasrani atau majusi” (HR.Bukhari-Muslim).

Anak yang Allah berikan kepada kita merupakan sebuah amanah yang harus kita jaga. Jika kemudian anak-anak kita menyimpang,mereka menjadi yahudi,atau nasrani ataupun majusi,dan ahli maksiat,maka kita sebagai orang tua nemiliki andil besar sebagai penyebabnya,karena orang tua adalah pihak yang sejak awal paling dekat dan berpengaruh langsung kepada mereka,dan lalai tidak memberikan pendidikan yang tepat sejak usia dini.

Tugas kita sebagai orang tua adalah mendampinginya dengan memberi arahan dan bimbingan kepadanya,sesuai dengan arahan dan bimbingan yang telah Allah dan Rasulnya ajarkan kepada kita.

Pendidikan merupakan jalur utama yang harus kita tempuh untuk mengantarkan anak-anak kita menjadi generasi yang shaleh dan shalehah.

Terdapat tiga elemen pendidikan yang setidaknya akan dilalui oleh anak-anak kita,yaitu pendidikan keluarga dalam hal ini di rumah,pendidikan formal dalam hal ini sekolah,dan pendidikan non formal dalam hal ini lingkungan masyarakat.

Pendidikan keluarga yang menjadi tokoh utamanya adalah kita sebagai orang tua,sehingga kita harus memberikan contoh yang baik dalam semua aspek yang kita lakukan.

Pendidikan formal dalam hal ini sekolah yang menjadi tokoh utamnya adalah guru,selain itu terdapat tokoh-tokoh yang lain yang juga berperan aktif dalam mendidik anak-anak kita,termasuk juga adalah teman sebaya dan tentunya kita sebagai orang tua.

Tentunya semua tokoh tersebut harus juga berperan aktif memberikan contoh yang baik bagi anak-anak kita agar anak-anak kita menjadi generasi yang baik.

Selanjutnya pendidikan non formal yang cakupannya lebih luas lagi. Tokoh yang berperan di dalamnya adalah kita sebagai orang tua,dan masyarakat di sekitar kita.

Lantas apa yang harus kita lakukan pada elemen pendidikan yang ketiga ini,terlebih ketika anak-anak kita pulang sekolah ?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas alangkah idealnya kalau kita bertanya dulu kepada diri kita sendiri,ketika anak pulang sekolah apakah kita sudah pulang dari tempat kerja dan sudah siap menemani anak-anak di rumah ?

Kalau ketika anak-anak kita pulang sekolah dan kita sudah siap di rumah untuk menemani mereka,maka mungkin lebih mudah bagi kita untuk menjawab pertanyaan pertama,karena kita bisa berinteraksi langsung dengan anak-anak kita,menemani mereka,dan memberi arahan dan bimbingan kepada mereka.

Namun jika ketika anak-anak kita pulang sekolah,kita masih berada di tempat kerja,apalagi antara ayah dan ibu juga sama-sama bekerja,maka mungkin kita perlu ektra untuk menjawab pertanyaan pertama di atas.

Setidaknya ada beberapa hal yang mungkin bisa untuk kita lakukan untuk membimbing anak-anak kita ketika pulang sekolah.

Pertama,jika ketika anak-anak kita pulang sekolah dan kita sudah berada di rumah,maka temanilah mereka dalam segala aktivitasnya,sehingga terhindar dari pengaruh-pengaruh  negatif di lingkungan kita.

Kedua,jika kita sebagai orang tua yang sama-sama bekerja (ayah dan ibu),sehingga ketika anak-anak kita pulang sekolah kita tidak berada di rumah untuk menemani mereka,maka buatlah jadwal kegiatan untuk anak-anak kita sepulang sekolah,misalkan dengan mengikutkan kegiatan pengembangan diri di sekolah,les privat di rumah,kegiatan TPA dan sebagainya.

Ketiga,jangan biarkan anak-anak kita sendirian di rumah ketika pulang sekolah,apalagi rumah kita dilengkapi dengan perangkat media yang sudah serba canggih,seperti internet,game,televisi dan lain sebagainya. Semua itu harus ada yang mengawasinya,paling tidak kakek atau nenek bisa menemaninya di rumah.

Keempat,kuatkanlah anak-anak kita dengan pemahaman keislaman,mulai dari aqidah,akhlak,fiqih dan sebagainya,hingga anak-anak kita betul-betul faham dan tertanam di dalam hati mereka,sehingga dengan sendirinya mereka akan bisa membedakan yang baik dan yang buruk,yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh.

Tentunya kita semua mengharapkan anak-anak kita menjadi anak yang shaleh dan shalehah,karenanya mari kita bimbing,dan dampingi anak-anak kita setiap saat,kapanpun dan dimanapun mereka berada,serta dengan siapapun mereka berinterakasi.

Tak mudah memang untuk melakukan hal itu karena kita dibatasi kemampuan baik secara ilmu,materi,maupun yang lainnya. Tapi percayalah Allah maha kaya atas semua itu,karenanya kita titipkan anak-anak kita kepadaNya,dan do’akan mereka dalam setiap waktu. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah pendidik di Hidayatullah Sleman Yogyakarta, twitter : @Subliyanto

KETIKA MURID DEMAM BATU AKIK

Ditulis Oktober 12, 2015 oleh Subliyanto
Kategori: Kajian

Oleh : Subliyanto*

Fenomina batu akik tidak hanya menjadi trend di kalangan pria dewasa. Namun juga merambat di kalangan siswa. Tak sedikit diantara siswa yang memakai akik dan bahkan mereka mengetahui nama dari masing-masing jenis batu mulia tersebut.

Suatu hari seorang guru mengadakan razia di tas bawaan siswanya,razia tersebut tidak ada tujuan khusus untuk batu akik,namun razia tersebut memang sudah rutin dilakukan sebagai bagian dari monitoring siswa selama kegiatan pembelajaran di sekolah berlangsung.

Terdapat hal yang mengejutkan bagi sang guru,pasalnya ia menemukan dua cincin akik yang diameternya cukup besar. Tidak hanya itu bahkan ditemukan juga batu akik yang masih bongkahan di tas salah satu muridnya.

Tanpa panjang lebar komunikasi,sang guru menyitanya sebagai antisipasi dari hal-hal yang tidak diinginkannya,dan meminta orang tua murid yang bersangkutan untuk mengambilnya.

Cerita singkat di atas setidaknya menjadi bahan referensi bagi kita baik sebagai orang tua maupun sebagai guru,karena jika demam batu akik sudah melanda siswa maka sangat besar kemungkinannya kegiatan pembelajaran terganggu karena siswa akan disibukkan dengan batu akiknya,belum lagi termasuk yang menyalah gunaannya.

Lantas apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasinya ?

Ada beberapa hal yang kiranya perlu kita sampaikan kepada siswa kita yang juga sedang kepincut batu akik.

Pertama,kita sebagai orang tua dan guru hendaknya memberikan pemahaman kepada siswa tentang kedudukan batu akik,baik ditinjau dari segi hukum memakainya,maupun dari sisi yang lain yang ada relevansi dan korelasinya.

Kedua,karena batu akik sudah menjadi trend di kaum pria,maka sekolah perlu membuat aturan-aturan yang membatasinya yang kemudian dituangkan ke dalam SOP agar tidak mengganggu kegiatan pembelajaran yang seharusnya menjadi diprioritaskannya.

Ketiga,sebagai orang tua dan guru kita juga harus mewaspadai fenomina batu akik yang sedang melanda pria,jangan sampai kita terjebak dengan hal-hal yang kecil bentuknya tapi besar pengaruhnya,apalagi sampai mengarah kepada kesyirikan. Hal ini juga perlu kita sampaikan kepada anak didik kita.

Semoga dengan lebih hati-hati dapat mengantarkan kita semua menjadi orang-orang yang selamat di dunia terlebih di akhirat kelak.Wallahu a’lam

*Penulis adalah pendidik di Sleman Yogyakarta,twitter @Subliyanto.

Istilah-Istilah dalam Pendidikan 5

Ditulis Oktober 7, 2015 oleh Subliyanto
Kategori: Kajian

Kinerja Guru adalah wujud prilaku atau kegiatan guru dalam proses pembelajaran, yaitu bagaimana seorang guru merencanakan pembelajaran melaksanakan kegiatan pembelajaran dan menilai hasil belajar, indicator jabatan fungsional kinerja guru sesuai dengan rincian kegiatan yang terdapat SK Menpan No 84/1993, dilakukan dengan menfokuskan pada unsur kegiatan, pendidikan, pengembangan profesi, dan kegiatan penunjang proses pembelajaran dan bimbingan.

Kualitas Kinerja Guru adalah wujud prilaku atau kegiatan yang dilaksanakan dan sesuai dengan harapan dan kebutuhan atau tujuan yang hendak dicapai secara efektif dan efisien. Untuk mencapai hal tersebut, seringkali kinerja guru dihadapkan pada berbagai hambatan/kendala sehingga pada akhirnya dapat menimbulkan bentuk kinerja yang kurang efektif.ukuran kualitas kinerja guru dapat dilihat dari produktivitas pendidikan yang telah dicapai menyangkut output siswa yang dihasilkan.

Abilitas Guru adalah suatu karakteristik umum dari seseorang yang berhubungandengan pengetahuan dan keterampilan yang diwujudkan melalui tindakan. Abilitas seorang guru secara aplikatif indikaatornya dapat digambarkan melalui delapan keterampilan mengajar (teaching skills), yakni: keterampilan bertanya(questioning skills), keterampilan member penguatan (reinforcement skills),keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan (explaning skills),keterampilan membuka dan menutup pelajaran (set induction and closure skills),keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas dan keterampilan pembelajaran individual.

Sertifikasi Guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru yang telah memenuhi standar kompetensi guru. Sertifikasi guru bertujuan untuk: (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan nasional pendidikan, (2) meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan, (3) meningkatkan martabat guru, (4) meningkatkan profesionalisme guru, (5) meningkatkan kesejahteraan guru.

Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya atau prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebgai guru dalam interval waktu tertentu.

*Sumber : Rusman, Glosarium, Manajemen Kurikulum, Jakarta : Rajawali Pers, 2009

Istilah-Istilah dalam Pendidikan 4

Ditulis Oktober 7, 2015 oleh Subliyanto
Kategori: Kajian

Sumber Belajar memiliki enam jenis yaitu (1) pesan (message) yang meliputi pesan formal dan nonformal (2) orang (people) yang secara umum dapat dibagi dua  kelompok yaitu kelompok orang yang didesain khusus sebagai sebagai sumber belajar utama, kelompok yang kedua adalah orang yang memiliki profesi selain tenaga yang berada dilingkungan pendidikan dan profesinya tidak terbatas (3) bahan (matterials)yaitu merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan pembelajaran (4) alat (device) berupa benda-benda yang berbentuk fisik, sering disebut juga dengan perangkat keras (hardware) (5) teknik yaitu cara (prosedur) yang digunakan orang dalam memberikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran (6) latar(setting) yaitu lingkungan yang ada didalam sekolah maupun lingkungan yang ada diluar sekolah, baik yang sengaja dirancang maupun yang tidak secara khusus disiapkan untuk pembelajaran.

Media merupan wadah dari pesan yang oleh sumber pesan ataupun penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut.

Media Pembelajaran adalah berperan sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar sehingga mengkondisikan seseorang untuk belajar.

Sejumlah pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat dapat kita rumuskan dalam satu kata ACTION yaitu akronim dari  access, cost, tehnology, organization, dan novelty.

Internet adalah sebuah jaringan global yang merupakan kumpulan dari jaringan-jaringan computer diseluruh dunia. Internet mempermudah para pemakainya untuk mendapatkan informasi-informasi di dunia cyber, lembaga-lembaga milik pemerintah dan institusi pendidikan dengan menggunakan komunikasi protocol yang terdapat pada computer.

Pembelajaran adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Perencanaan Pembelajaran (deign insrtuctional) adalah merupakan penjabaran oprasional dari kurikulum sedangkan aplikasi dari perencanaaan akan terlihat dalam kegiatan pembelajaran. Perenceanaan pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran, terutama sebagai alat proyeksi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. fungsi perencanaan pembelajaran sebagi pedoman atau panduan kegiatan, menggambarkan hasil yang akan dicapai sebagai alat control dan evaluasi. Bentuk perencanaan pembelajaran adalah silabus pembelajaran dan rencana pelaksanaan pembelajaran.

*Sumber : Rusman, Glosarium, Manajemen Kurikulum, Jakarta : Rajawali Pers, 2009